Entah rangsangan luar biasa darimana sehingga pelaku mutilasi dengan ringan tanpa takut, mengiris-iris korban menjadi potongan-potongan daging yang membuat bulu kuduk berdiri.
Mutilasi, saking luar biasanya, selalu menyita perhatian publik. Terlebih, bila pelaku tidak tunggal melainkan kelompok seperti dalam pembersihan etnis (genosida) ataupun kejahatan perang.
Konon, perilaku bar-bar ini diwarisi oleh perilaku hewan dalam mempertahankan hidup. Tepatnya, meminjam istilah Charles Darwin (1809-1882), survival for the fittest: siapa yang kuat, dia yang menang. Kalau ingin lolos dari seleksi alam, singkirkan lawan dan musuh. Bila perlu dihabisi sampai dicincang habis. Begitu kira-kira pendapat Darwin.
Meminjam teori itu, ahli kejiwaan asal Italia Cesare Lombroso (1836-1909) memodifikasi untuk analisis pelaku mutilasi. Menurutnya, para pelaku kriminal kelas kakap- termasuk mutilasi ini-mempunyai ciri fisik khusus yakni kepala besar, tulang rahang asimetris, muka bengis dan sejumlah faktor fisik lainnya. Lanjutkan membaca ‘Mutilasi, Teror Paling Nyata’
Mouse komputer yang biasa kita pakai sehari-hari ini sudah bertahta selama 40 tahun. Namun usianya dikabarkan tidak akan mencapai setengah abad. Dalam lima tahun mendatang, fungsi mouse akan diganti oleh layar sentuh dan pengenal wajah. Begitu prediksi analis dari Gartner.
Pemerintah dinilai belum serius melindungi warga dari bahaya asap rokok. Padahal, sebanyak 1.172 orang di Indonesia meninggal setiap hari karena tembakau.
Jangan dikira, persepsi merokok akan menghilangkan stres hanya dimiliki laki-laki. Banyak juga wanita yang percaya dengan persepsi salah tersebut. Riset terbaru menunjukkan, 88 persen wanita muda Indonesia adalah perokok.








Komentar Terakhir