Keadaan Geografis

Letak Daerah Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Magetan dan Kabupaten Madiun di utara, Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek di timur, Kabupaten Pacitan di barat daya, serta Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) di barat.

Obyek wisata

Ponorogo dikenal dengan julukan kota reog, karena daerah ini merupakan tempat lahirnya kesenian reyog, yang kini menjadi icon wisata Jawa Timur. Setiap tanggal 1 Muharam Suro, kota Ponorogo diselenggarakan Grebeg Suro yang juga merupakan hari lahir Kota Ponorogo. Dalam even Grebeg Suro ini diadakan Kirab Pusaka yang biasa diselenggarakan sehari sebelum

tanggal 1 Muharram. Pusaka peninggalan pemimpin Ponorogo jaman dulu,saat masih dalam masa Kerajaan Wengker, diarak bersama pawai pelajar dan pejabat pemerintahan di Kabupaten Ponorogo, dari Makam Batoro Katong (pendiri Ponorogo) di daerah Pasar Pon sebagai kota lama, ke Pendopo Kabupaten. Pada Malam harinya, di aloon-aloon kota, Festival Reog Internasional memasuki babak final. Esok paginya ada acara Larung Do’a di Telaga Ngebel, dimana nasi tumpeng dan kepala kerbau dilarung bersama do’a ke tengah-tengah Danau Ngebel. Even Grebeg Suro ini menjadi salah satu jadwal kalender wisata Jawa Timur. Satu lagi obyek wisata yang yang dapat dikembangkan sejajar dengan obyek wisata didaerah lain yaitu Telaga Ngebel. Panorama yang dapat dilihat di Telaga Ngebel sangat menakjubkan. Danau yang masih alami dan belum banyak terjamah fasilitas umum ini, dikelilingi oleh Gunung Wilis. Merupakan objek wisata potensial, yang mampu mendatangkan turis domestik maupun mancanegara apabila dikembangkan secara matang dan terpadu.

TELAGA NGEBEL

Telaga Ngebel merupakan salah satu tempat wisata yang menjadi andalan kota Ponorogo, yang terletak kurang lebih 25 km sebelah selatan kota Madiun. Tempat wisata ini merupakan tempat wisata yang sebetulnya cukup bagus untuk dikunjungi karena pemandangannya yang menarik, namun karena pengelolaan manajemen yang tidak optimal menjadikan tempat wisata ini tidak begitu dilirik wisatawan.

Di tempat wisata ini kita dapat melihat sebuah telaga yang dikelilingi dengan hutan yang rimbun dan nampak masih sangat alami, cocok sekali untuk tempat beristirahat dan tempat memancing karena suasananya yang teduh dan tenang sehingga kita dapat menghabiskan waktu liburan atau akhir pekan dengan pergi ke tempat wisata ini

Untuk dapat sampai ke telaga ini kita harus melewati jalanan dengan medan yang cukup sulit karena banyak sekali tikungan tikungan tajam, hal ini wajar karena telaga ngebel memang terdapat di daerah pegunungan sehingga tidak mengherankan bila hawa udara disini juga cukup sejuk.

Banyak tempat untuk berteduh yang disediakan di sini, kita dapat juga beristirahat di pinggir telaga sambil memancing atau mengobrol bersama.

MITOS TELAGA NGEBEL

Ngebel menjadi menarik karena punya legenda sendiri bagaimana telaga ini “terbentuk”. Menurut mitos, telaga ini muncul sebagai ekses kemarahan seorang pemuda miskin bernama Baru Klinting yang menjadi bulan-bulanan ejekan penduduk sekitar yang arogan dan rakus. Ia sendiri sebenarnya merupakan manusia jelmaan seekor naga yang baru saja dibunuh oleh warga setempat untuk konsumsi pesta rakyat.

Kedatangan Baru Klinting memicu kemarahan warga, karena mereka tak ingin melihat seorang pemuda berpenampilan lusuh dan dekil. Hanya seorang janda tua bernama Nyai Latung saja yang mau memberikan perhatian kepadanya, termasuk ketika Klinting minta makan-minum. Ejekan dan perlakuan tak adil itu membuat Klinting marah hingga ia berani mengajukan sebuah sayembara kepada warga setempat; menantang mereka apakah mampu mencabut lidi yang dibenamkan di dalam tanah.

Ejekan adalah sambutan massa. Namun, Klinting malah menantang; nyawanya sendiri menjadi taruhannya manakala ia tak mampu melakukan sayembara itu. Di luar dugaan, warga yang marah tak sanggup melakukan itu, selain Klinting sendiri. Namun, ketika ia melakukan itu, segera memancurlah air dari tanah di mana lidi tadi tertancap. Makin lama makin banyak hingga akhirnya terjadilah banjir bandang yang menenggelamkan seluruh warga Ngebel kecuali Nyai Latung. Karena, nenek inilah yang menyelamatkan Baru Klinting di saat menderita kelaparan. Sebelum desa ditenggelamkan, Baru Klinting memberi pesan kepada nenek itu, agar segera naik lesung bila mendengar suara gemuruh air.

Legenda dan kekayaan alam Ngebel inilah yang menjadi daya tarik tersendiri mengapa warga Ponorogo suka mengunjungi telaga ini.

Sejarah Reog Ponorogo

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Ker

tabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit

akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya . Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Kontroversi

Tarian Reog Ponorogo yang ditarikan di Malaysia dinamakan Tari Barongan. Deskripsi akan tarian ini ditampilkan dalam situs resmi Kementrian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia. Tarian ini juga menggunakan topeng dadak merak, topeng berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak, yang merupakan asli buatan pengrajin Ponorogo. Permasalahan lainnya yang timbul adalah ketika ditarikan, pada reog ini ditempelkan tulisan “Malaysia” dan diaku menjadi warisan Melayu dari Batu Pahat Johor dan Selangor Malaysia – dan hal ini sedang diteliti lebih lanjut oleh pemerintah Indonesia.. Hal ini memicu protes dari berbagai pihak di Indonesia, termasuk seniman Reog asal Ponorogo yang berkata bahwa hak cipta kesenian Reog dicatatkan dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia. Ribuan Seniman Reog pun menggelar demo di depan Kedutaan Malaysia. Berlawanan dengan foto yang dicantumkan di situs kebudayaan, dimana dadak merak dari versi Reog Ponorogo ditarikan dengan tulisan “Malaysia” Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Muhammad Zain pada akhir November 2007 kemudian menyatakan bahwa “Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim Reog Ponorogo sebagai budaya asli negara itu. Reog yang disebut “barongan” di Malaysia dapat dijumpai di Johor dan Selangor karena dibawa oleh rakyat Jawa yang merantau ke negeri jiran tersebut.

Sate Ayam Ponorogo

Sate Ponorogo Memang Tidak Ada Duanya


Satenya sih hampir sama dengan sate kebanyakan, yaitu daging ayam yang ditusuk dengan lidi khusus sate, kemudian dipanggang di atas anglo dengan bahan bakar arang kayu..

Yang membedakan sate Ponorogo dengan sate lain adalah potongan daging yang dibuat pipih memanjang, jadi dalam satu tusuk hanya terdiri dari 1 atau 2 potong daging. Satu tusuk sate Ponorogo memiliki ukuran kurang lebih dua kali ukuran sate Madura. Bumbunya terbuat dari kacang tanah dicampur dengan gula aren dan sedikit cabai/lombok..

Di Ponorogo sendiri memang ada sebuah kampung yang menjadi sentra produksi sate, namanya kampung Setono atau yang dikenal dengan sebutan kampung sate. Lokasinya berada di sebelah timur pasar kota. Hampir semua warga kampung tersebut berprofesi sebagai pembuat sate. Salah satunya adalah keluarga Sobikun yang berjualan di timur perempatan pasar kota
Sate Ponorogo bisa dijadikan oleh-oleh karena bisa bertahan selama 2 hari meskipun tanpa bahan pengawet. Jika mau dibawa ke luar kota, sate dimasukkan dalam kemasan yang terbuat dari bilah bambu yang dianyam berbentuk kotak, atau biasa disebut dengan besek..

Ketika berkunjung ke Ponorogo jangan lupa mencicipi lezatnya sate khas Ponorogo ini di kampung sate. Alternatif tempat yang lain adalah di sekitar pertigaan Jl.Soekarno-Hatta, Jl.Jend.Soedirman dan Jl.Gajahmada, atau persis di depan BCA Ponorogo. Di sana berderet-deret puluhan penjual sate. Setelah puas makan di tempat, jangan lupa bawa oleh-oleh buat keluarga atau teman..

NASI PECEL PONOROGO

Masih terbawa nuansa Madiun, Ponorogo juga memiliki pecel. Yang sering dikenal yaitu nasi pecel tumpuk yang ada dijalan kawung 174 mangunsuman

Pecel Tumpuk ini memadukan kembang turi, bayam, kenikir, daun pepaya, tauge, Lalu ada asesoris petai cina atau lamtoro (Bhs. Jawa) dan daun kemangi yang disebut trancam.

Lalu diberi sambal kacang yang pedesnya mantab banget. Untuk melengkapi menu, di meja saji juga disediakan gorengan-gorenang menarik yang meminta untuk dicoba.

Ada trasi dele (yang kali ini menggunakan ketela, bukan gaplek), rimbil yang terbuat dari kelapa, lalu tahu pong goreng, tempe, hingga telur dadar. Itu yang paling aku suka. Lezat.

Sayangnya, warung makan ini baru dibuka pukul 5 sore dan tutup saat sudah habis. Harga seporsinya hanya Rp 3.000,-.

DAWET JABUNG PONOROGO

Di Ponorogo ada satu desa yang sangat terkenal dengan dawetnya, yaitu Desa Jabung. Letaknya sekitar 7KM selatan kota, antara Jeruk Sing – Jetis, dekat dengan Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo.

Seperti apa dawetnya?

dawetnya sendiri terbuat dari tepung aren yang kemudian dibentuk seperti lazimnya bentuk dawet kebanyakan. Kuah dawetnya terdiri dari santan kelapa muda yang ditambah dengan gula aren dan sedikit garam. Untuk memperkaya rasa, maka biasanya ditambahkan tape ketan dan irisan buah nangka. Semuanya dimasukkan salam satu mangkok kecil dan ditambah dengan es batu..Dawet Jabung cocok dinikmati dalam segala suasana, terutama ketika terik matahari,

Harganya? sangat murah , hanya seribu rupiah untuk sebuah kesegaran yang sangat khas dan nikmat.. Kalau mau tambah jajanan, bisa langsung menyantap berbagai gorengan yang telah tersedia, dengan harga yang sangat murah juga tentunya: 300 rupiah!!!

Kalau ke Ponorogo, jangan lupa mampir ya.. Dawet Jabung!!!

42 Tanggapan ke “Kota AsalKu”


  1. 1 nalendra haidar putra Maret 6, 2008 pukul 5:05 am

    makasih sohib atas info kota asalku tentang ponorogo-nya, ni lagi nulis tentang sate ponorogo, sebagian tulisan diatas tak jadikan referensi ya..

    biodata -xu
    Heri Wijayanto, ST, MM
    UNMUH Ponorogo
    Ka. Puskom
    email : ok_coi@yahoo.com
    axios_04@yahoo.co.id

    tlp. 08123437549

    maksih juga udah mampir ke blog Q, sering2 mampir yach

  2. 2 Susilo W Maret 15, 2008 pukul 4:07 am

    Numpung lewat dan lihat2 Mbak. Aku juga asli Pomnorogo loooo..Tapi kerja di Mataram Lombok, dan sekarang lagi kuliah di S2 UGM. Bagus banget blognya,bisa untuk melengkapi wawasanku tentang kota Ponorogo tercinta.Aku juga punya blog http://ilowirawan.wordpress.com atau http://ilowirawan.multiply.com Salam kenal ya….

    # thank’s bangetzz udah mampir blog Q, salam kenal yach #

  3. 3 azaxs Mei 25, 2008 pukul 4:14 pm

    wey, lengkap banget profil ponorogonya..

    wah.. banner PBC (Ponorogo Blogger Community) dipasang diblog ini.. btw tu cuma iseng aja.. gagasanku n wongbagoes, tapi ya gitu terbengkalai, coz nyari blogger ponorogo ga ktemu-ktemu..hehe..

    Btw kalo g sibuk bisa bantuin ngaktivin PBC ato bikin komunitas untuk blogger ponorogo gitu….

    Swun… :)

    >>>>> boleh2 tapi musti sering2 di update juga kang azaxs :) <<<<<

  4. 4 azaxs Mei 27, 2008 pukul 5:03 pm

    Itu dia maslahnya… kita sama-sama punya ksibukan n akhirnya malas update gitu…

    Yup.. sampean kita masukin jadi kontributor.. n kita Update bareng2 yo yu…

    Posisiku di PO… sekarang di STAIN, la sampean?

  5. 5 husyap Juni 1, 2008 pukul 8:12 pm

    untuk ulasan tentang ponorogo mempunyai makna yang sangat mendalam karena kurang lebih 9 tahun aku mendiami kota yang tekenal dengan reognya. palagi dengan warun BWW nya yang mau ke arah wonogiri, heheh. trims atas photo-photnya, bisa diambil kann, hehehehe

    >>>> boleh2 monggo silahkan :) :) <<<<<

  6. 6 det Juni 3, 2008 pukul 4:16 pm

    wehehehe… makasih juga sudah comot gambar dari blogku.. rapopo wes pek-pek-en demi ponorogo tersayang xixixixxi…

    salam kenal juga jeng..

  7. 8 nur Juni 17, 2008 pukul 8:33 pm

    enak ni satenya…

  8. 9 ahda Juni 22, 2008 pukul 8:51 pm

    weleh satene ngangenin. seminggu lagi balik ke PO ne. langsung tuku sate/ di jakarta sate gak ada yang enak. seandainya sate ponorogo di pasarin plus di beri image trade mark, sate madura sama sate padang mungkin gigit jari. ha hah haahaha. jadi nyesel kuliah disini. mending masuk stain apa unmuh po.

  9. 10 sam Juli 7, 2008 pukul 5:00 pm

    EEEMMMM, KOYO NE SEGER TENAN IKI DAWET JABUNGE, SAYANGE NENG LAMPUNG ORA ENEK, DADI NGILER AKU.


    dawet jabung emang seger tenan pak pohh :lol: :lol: :lol:

  10. 11 anisa Juli 14, 2008 pukul 4:31 pm

    Menampilkan Pembaca Terakhir Pada Sidebar Blog Anda gimana?

  11. 12 sukolaras Juli 27, 2008 pukul 9:25 pm

    wah ternyata dari daerah jatim ya, itu lho pecel ponorogo uenaak ya

  12. 13 zubaidi Juli 29, 2008 pukul 1:23 pm

    wah ini bener-2 wong pon tapi klo ga salah ada kucur(forest area)trus ada tempat yangbanyak blum tercover ada situ(macam danau) di pon selatan apa itu namaya saya lupa ada gunung yang bisa dijadikan mountclimb di slahung klo ga salah trus banyak lho makam para perintis berdirinya kota pon
    yang blum bisa jadi tempat agenda wisata rohani ada guwa ditimur kota
    apa namanya itu? blum tersentuh dah mudahan zampeyan2 zring tukar info
    trus biza lbeh mengangkat khazanah budaya pon ayodong orengpon bangun
    yang laen dah terbang mosok maseh jalan kaki aza zampeyan

  13. 14 bagsa Agustus 3, 2008 pukul 4:54 pm

    aku cah pacitan city aku bangga jdi anak pacitan coz bnyk tempt wisata


    slamat datang di blog Q silahkan keliling2 :lol: :lol: :lol:

  14. 15 bagsa Agustus 3, 2008 pukul 4:56 pm

    pacitan tempat kelahiranku d sna aku d besarkan,aku bangga jdi orang sana,n pak presuden ja dri kota kecil yng punya sejuta wisata dan orang cerdas.heeeee


    salam kenal :lol: tetanggan brarti ya sama kota reog :lol: :lol:

  15. 16 arifudin Agustus 18, 2008 pukul 2:02 pm

    mbak mey saya copy foto dawetnya


    silahkan………..

  16. 17 gajah_pesing Agustus 20, 2008 pukul 11:07 am

    es dawet… ngelak aku


    dawet…dawet…. :D emange bakul dawet hahahah

  17. 18 eko putra September 8, 2008 pukul 2:41 pm

    ass…….
    salam kenal ya….

    pringgitan ketinggalan mbak……

  18. 19 agus san September 14, 2008 pukul 4:49 pm

    Assalamualaikum
    Piye kbre Cah Ponorogo? dadi kangen kampung pas ndelok blog sampeyan

  19. 20 adi Oktober 17, 2008 pukul 5:38 am

    mbah ku bilang asalnya dari Ponorogo,berarti aku punya darah Ponorogo dong tapi aku ga tau tempat pastinya dimana,pengen sih kesana,suatu saat aku pasti datang.

  20. 21 Mulat November 1, 2008 pukul 11:44 am

    waduh jadi pengen mulih ning ponorogo lagi pdhal cm liat gbr nya doang.aku saiki ning serang. adoh banget.lam kenal deh dik mey

  21. 22 IKA November 6, 2008 pukul 11:16 am

    Qcah PACITAN tp kok drung prnh ng.PONOROGO yaw?
    pdhl PNRGO caem abizzzzzz

  22. 23 muhlis Desember 12, 2008 pukul 3:56 pm

    halo salam kenal…
    eh aku boleh copy foto reognya g?
    mau aku tampilindi blogku neh..
    boleh yah yah yah?
    makasih sebelumnya..
    salam damai indonesia
    dz4ki.blogspot.com


    boleh silahkan saja gratis kok

  23. 24 indah Desember 16, 2008 pukul 11:51 am

    Assalamu’alaykum… :)

    salam kenal mbak Mey, aku indah
    aku juga pernah ke ngebel waktu kecil dlu. subhanallah indah. kaya namaku he he :D

    kebetulan desa bapak di ponorogo. baca blognya mbak…aku jadi kangen ma ponorogo. hiks… :(

    tiap pagi disana makannya peceeel terus.kekekeke, tapi dijamin. aku ga pernah bosan.

    1 muharram besok jadi pingin banget ksana deh. liat kirab, mumpung rame ^_^
    btw, mbaknya sekarang di mana?

  24. 26 jhokentir Januari 1, 2009 pukul 12:01 am

    semua fasilitas al;am yang dimiliki ponorogo memang indah dan sy berharap tetap lestari….
    bwt anak mahipa bravo…

  25. 27 armyta Januari 10, 2009 pukul 8:43 am

    wew…
    ternyata ponorogo juga…
    salam kenal…
    :)

  26. 28 Shid Januari 14, 2009 pukul 3:21 pm

    saya sih bkn org ponorogo tp liburan kemaren main tuch kedaerahnya mantap, lam kenal ya neng.

  27. 29 EkoBanana Januari 16, 2009 pukul 7:17 pm

    Liat makananya jadi pengen mudik…

    Kangen ama pecel bikinan embahku…

  28. 30 mamas86 Januari 19, 2009 pukul 8:42 am

    Wuihh….. Lengkap banget… :mrgreen:

  29. 31 reifka Januari 23, 2009 pukul 9:22 pm

    telaga ngebel memang menarik, sayang pengelolaanya kurang optimal.
    trus infonya ttg telaga ngebel juga kurang, trus ada perahu kok cuman di parkir thox.

    reog memang kesenian asli ponorogo, malaysia tuh cuman ngaku2 thox.

    sate ayam ponorogo + dawet jabung = maknyuuss !!

    jadi ingin ke Ponorogo nih


    ponorogo – madiun kan deket mas

  30. 32 taufik Februari 28, 2009 pukul 6:11 pm

    cayo ponorogo bumi tercinta. bu untuk blogger ponorogo kumunitasnya apa ya. tanks infone. aku asli anak ponorogo tp ngak tau semua td.

  31. 33 belajardarikecil Maret 5, 2009 pukul 1:20 pm

    Aduh..gadis ponorogo ya…tukaran link dunk…duh kangen nih ke Ponorogo…mau ke Setono…

    Dah lama gak mampir ke makam batarakathong..hiks

    cheerss…

  32. 34 anggie April 4, 2009 pukul 12:49 am

    mantep bang!!!

    jgn lupa juga mampir ke blogq!!

    http://anggient.blogspot.com/

    cayo ponorogo!!!

  33. 36 Heni Hadipurwanto April 21, 2009 pukul 2:23 pm

    bagus buuuaanget tentang info kota asalku, aku jadi kepingin pulang kempung kangen karo panganan sate, pecel, lan dawet jabung. oh…ya aku asli cah ponorogo saiki merantau neng kendari sulawesi tenggara, wasalam……

  34. 37 Afif April 22, 2009 pukul 10:11 pm

    Wah, ponorogo kelihatan masih asri ya..
    slm knl

  35. 38 guskar April 24, 2009 pukul 4:41 pm

    Kulonuwun dulu, sebelum klak-klik artikel yang lain…

  36. 39 Curahan hati anak asli kota brem & petuahnya Juli 23, 2009 pukul 7:44 pm

    ane dari kota madiun tapi jua “NGGOLEK NGILMU” nang kota reyog!!!

  37. 40 dismas070492 Agustus 3, 2009 pukul 3:28 pm

    wah, udah hampir 147000 pengunjung. Selamat deh. Salam sesama blogger :)

  38. 41 indra rafael Oktober 20, 2009 pukul 10:14 pm

    kalau baca tulisan and liat liat gambar sampean aku jadi kangen pengen ke ponorogo lagi ni???artikel ni merupakan penawar rindu pada kampung halaman anak-anak ponorogo yang sedang study di tempat nan jauh disana (yogyakarta hadiningrat)

  39. 42 yos November 13, 2009 pukul 11:26 am

    mbak…
    nggak nyongko yo..
    ternyata sampeyan tonggoku..
    aku cah wonogiri mbak…
    sayang diwonogiri bloggernya masih sedikit banget…
    diponorogo dah banyak ya bloggernya…


Tinggalkan Balasan




Photobucket
Photobucket
Photobucket

 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Mengenai Saya

Photobucket
Mey's
Sesuatu Yang Paling Jauh Dari Kita adalah Masa Lalu, Bagaimanapun Kita, Apapun Kendaraan Kita, Kita tetap tidak akan bisa kembali ke masa lalu, Maka jagalah hari ini dan hari - harimu yang akan datang...

yang lagi nongkrongin

web tracker orang

blog ini sudah dikunjungi

  • 180,749 kali

Arsip

Kategori

Komentar Terakhir

Ririn di Terapi Air Putih
aeinex di Buku Tamu
indra setiawan di Tips Dan trik Belajar Corel…
achmad yusuf r di Terapi Air Putih
Rudini Silaban di Buku Tamu

Deteksi Pembaca

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.